Tradisi Seorang Nenek Menyirih, Kisah Dibalik Daun Sirih dan Rajutan Cinta Perempuan Asia

- Minggu, 16 Januari 2022 | 17:35 WIB
Ilustrasi seorang nenek sedang menyirih (Foto: tangkap layar kanal YouTube Palembang Chanel)
Ilustrasi seorang nenek sedang menyirih (Foto: tangkap layar kanal YouTube Palembang Chanel)

PANDEGLANGNEWS.CO.ID, - Tradisi nyirih kini hanya tersisa dalam sebuah masyarakat tradisional, yang notabene sedikit terpapar oleh proyek modernitas atau proses pembaratan secara intensif. Tradisi nyirih memberikan hikmah tentang perjalanan proses keterputusan dan sekaligus kesinambungan sebuah tradisi dari masa lalu.

Sekalipun kini tradisi mengunyah sirih hanyalah fenomena kecil di tengah-tengah masyarakat, bagi yang pernah mengunjungi pelosok-pelosok negeri dari Sumatera, Sulawesi, ataupun Indonesia bagian timur seperti Nusa Tenggara Timur hingga Papua bisa dipastikan masih akan ditemui kebiasaan ini.

Budaya mengunyah sirih yang sering disebut dalam banyak bahasa daerah, antara lain, "nyirih", "nginang", "bersugi", "bersisik", "menyepah", atau "nyusur", setidaknya hingga kini masih terlihat lazim dilakukan oleh generasi tua, baik laki-laki maupun perempuan, di sejumlah daerah.

Baca Juga: Biodata Sandiah Ibu Kasur, Sosok Pendidikan Anak Indonesia yang Jadi Google Doodle Hari Ini

Belum diketahui asal-usulnya secara pasti. Konon, tradisi mengkonsumsi sirih dan pinang telah dimulai sejak zaman neolitikum. Sekitar 3.000 tahun yang lalu, hal itu sudah menjadi kebiasaan masyarakat Asia Tenggara.

Ada pendapat yang beranggapan jika tradisi itu berasal dari India. Namun pandangan lain menyebutkan, tradisi ini kemungkinan berasal dari kepulauan Nusantara. Ini didasarkan pada asumsi, pinang dan sirih sendiri diduga kuat ialah tanaman asli di kepulauan Indonesia.

Baca Juga: Hasil Akhir Man City vs Chelsea: The Blues Ditekuk City dengan skor 1-0, Makin Sulit ke Puncak Klasemen Liga

Selain itu, juga menyimak pentingnya posisi nyirih bagi orang Indonesia terlihat mencapai tingkatan yang lebih dalam ketimbang di daerah lain di seputar Asia. Hal ini tercermin dari hadirnya tradisi nyirih dalam hampir semua ritual. Bahkan menurut catatan Anthony Reid (2018), dari ritual kelahiran, inisiasi kedewasaan, perkawinan, hingga kematian; dari ritual dan praktik penyembuhan, hingga ritual persembahan kepada roh leluhur.

Boleh dikata, di masa lalu mengunyah sirih atau nyirih di Indonesia bukanlah soal preferensi individual, melainkan keniscayaan dari ritus sosial bagi setiap orang dewasa. Tidak menawarkan sirih, atau menolak nyirih saat ditawari, bahkan akan dicap sebagai penghinaan.

Halaman:

Editor: Muhamad Aman

Sumber: Beragam Sumber

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Sepatu Adidas Original yang Ramai Peminat

Jumat, 19 Agustus 2022 | 09:02 WIB
X