Mengenal Sosok Almarhum K.H. Ahmad Rifai Arief, Sukses Dirikan Daar El-Qolam, Lanjut 2 Pesantren Lain!

- Jumat, 8 Oktober 2021 | 14:12 WIB
K.H. Ahmad Rifa'i Arief, Bapak Pendidikan Pesantren Modern di Banten. (Instagram @ikas_daarelqolam)
K.H. Ahmad Rifa'i Arief, Bapak Pendidikan Pesantren Modern di Banten. (Instagram @ikas_daarelqolam)

PANDEGLANGNEWS.CO.ID, - Drs. K.H. Ahmad Rifa'i Arief (lahir 30 Desember 1942–meninggal 16 Juni 1997 pada umur 54 tahun), adalah seorang kiai perintis dan pendiri Pondok Pesantren Daar el-Qolam, Pondok Pesantren La Tansa, Pondok Pesantren Sakinah La Lahwa, serta Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi dan Sekolah Tinggi Agama Islam (STIE dan STAI) La Tansa Mashiro. Ia wafat pada usia yang belum terlampau tua akibat serangan jantung.

Setelah ukses mendirikan Pondok Pesantren Daar el-Qolam pada Tahun 1968, dan mengembangkannya di Tahun 70-han, K.H. Ahmad Rifa’i Arief terus melanjutkan kiprah dan karya-karyanya.

Kiyai Rifa'i melakukan ekspansi pada Tahun 1989. Ia membuka sebuah tempat di pedalaman Banten sebelah selatan. Dipilihnya lokasi yang sangat indah, di antara pegunungan dan air yang mengalir deras nan jernih.

Baca Juga: Ini Lho Daar El-Qolam, Pesantren Terbesar di Banten Yang Punya JPO Khusus Santriwati!

Ia membuka lahan itu dan memberinya nama Parakansantri yang artinya perkampungan santri. Di sinilah ia mendirikan pondoknya yang kedua yang diberi nama "La Tansa", yang maksudnya "fokuskan akhirat tetapi jangan melupakan dunia".

Lembaga ini dikelola oleh Yayasan "La Tansa Mashiroh” yang didirikan oleh Drs. KH. Ahmad Rifa'i Arief (Alm), dengan Akta Notaris No. 4 Tanggal 9 Januari 1991 dan Akta perubahan No. 44 Tanggal 20 April 1998, beralamat di Parakansantri, Lebakgedong, Lebak, Banten.

K.H. Ahmad Rifa'i Arief merupakan tokoh pendidikan pondok pesantren modern Banten. (Instagram @pusatstudipesantren)


Lahirnya Pondok Pesantren La Tansa didasarkan atas kesadaran untuk membangun sumber daya manusia yang beriman, dan bertaqwa, berwawasan luas, dan berilmu. Serta berakhlakul-karimah (mukminin, muttaqien dan rosikhina fil'ilmi), yang kelak menjadi generasi penerus bangsa, negara dan agama dalam pelbagai sektor kehidupan.

La Tansa menjadi pilihan alternatif dan menjadi tujuan banyak orang untuk dijadikan sebagai tempat menimba ilmu. Hal ini terbukti dengan kehadiran para santri dari berbagai kota dan provinsi di Indonesia, untuk menuntut ilmu pengetahuan di Pondok Pesantren La Tansa setiap tahunnya.

Penulis Nasional, Hafis Aszhari mengabadikan ajaran dan sejarah dakwah K.H. Ahmad Rifa'i Arief dalam sebuah buku. (Instagram @jaya_buku)


Kepeduliannya terhadap dunia pendidikan tidak berhenti sampai di situ. Pada akhir tahun 1993 M ia mulai mengagas berdirinya pendidikan tinggi sebagai pusat ilmu dan pengabdian kepada masyarakat. Maka ia mendirikan "Sekolah Tinggi La Tansa Mashira". Adapun fakultas yang dirancang ialah fakultas dakwah, fakultas pendidikan dan fakulas pertanian.

Pada tahun 1995 Masehi, Rifa'i kembali mengagas berdirinya sebuah pesantren">pondok pesantren dengan nuansa wisata. Dipilihnya tempat yang indah di tepi pantai. Di tempat itu ia mendirikan villa dan resort yang cukup mewah.

Foto udara: Nampak kurang lebih 5 ribu santriwan dan santriwati Ponpes Daar El-Qolam melakukan Sholat Idul Adha di Lapangan Gedung Monas (Muhammad Natsir). (Instagram @daarelqolam)

Tujuannya adalah pondok itu tidak hanya sebagai tempat untuk menikmati keindahan alam, tetapi juga untuk tafakkur serta tadabbur terhadap keagungan ciptaan Allah SWT.

Baca Juga: Sejarah Perjuangan KH. Ahmad Rifa'i Arief Dirikan Pesantren Modern Pertama di Banten: Sempat Dicap Kafir!

Oleh sebab itu di samping menikmati keindahan alam, pondok itu juga mengajarkan pengetahuan keislaman, memantapkan akidah dan mengisi emosional dan spiritual. Maka itu pondok itu diberinya nama "Pondok Pesantren La Lahwa", yang maksudnya "jangan lalai dengan dunia."

Pada tahun 1997 semua karya-karya itu sudah berjalan sesuai dengan fungsinya masing-masing. Namun, beliau sadar bahwa karya-karya itu akan semakin menambah beban dan fikirannya.

Lokasi Pesantren La Tansa sangat strategis, di sebuah lembah, di apit dua pegunungan dan perbukitan, serta dikelilingi aliran sungai Ciberang. (Instagram @pesantrenlatansa)


Meskipun ia menyerahkan kepada kader-kadernya, bukan berarti ia meninggalkannya sama sekali. Ia mesti mengunjungi 3 institusi pendidikan yang dibangunnya kecuali Daar el-Qolam yang memang dekat dengan rumahnya. Pada masa itulah ia selalu pergi balik ke Gintung–Rangkasbitung atau Gintung– Labuan yang berjarak lebih kurang 35 KM.

Setiap kali pergi untuk mengawasi pondok-pondoknya, Rifa'i selalu diantar oleh supir pribadinya, Wawan Ridwan. Selain berkunjung ke pondok-pondoknya, Rifa'i juga disibukkan dengan undangan acara atau pertemuan tertentu.

Halaman:

Editor: Ahmad Haris

Tags

Terkini

X