Sejarah Perjuangan KH. Ahmad Rifa'i Arief Dirikan Pesantren Modern Pertama di Banten: Sempat Dicap Kafir!

- Rabu, 6 Oktober 2021 | 21:09 WIB
K.H. Ahmad Rifa'i Arief merupakan tokoh pendidikan pondok pesantren modern Banten. (Instagram @pusatstudipesantren)
K.H. Ahmad Rifa'i Arief merupakan tokoh pendidikan pondok pesantren modern Banten. (Instagram @pusatstudipesantren)

PANDEGLANGNEWS.CO.ID, - Sejarah mencatat, bagaimana perjuangan Nabi Muhammad 'Sholallahu 'alaihi wa salam' dalam menyebarkan misi ke-Tuhanan. Beliau diutus salah satu tugasnya adalah untuk menyempurnakan akhlak manusia.

Oleh karena itu, awal dakwah beliau dilakukan melalui sebuah madrasah di rumah Al-Arqam. Dari sinilah kemudian umat muslim (syeikh-kiyai-ustad-guru-pendidik) sebagai pewaris nabi, bertanggung jawab untuk melanjutkan misi dakwah hingga akhir masa (kiamat).

Dakwah merupakan tugas mulia bagi setiap kaum muslimin dan muslimat. Dengan strategi dan pendekatan dakwah itulah, kemudian baik perorangan atau sebuah lembaga, berkewajiban untuk meneruskan estapet misi kerasulan tersebut, tak terkecuali lembaga pendidikan, seperti halnya pesantren modern.

Baca Juga: Ini Lho Daar El-Qolam, Pesantren Terbesar di Banten Yang Punya JPO Khusus Santriwati!

Manajemen pendidikan Islam adalah suatu proses pengelolaan lembaga pendidikan Islam secara islami, dengan cara menyiasati sumber-sumber belajar dan hal-hal lain, yang terkait untuk mencapai tujuan pendidikan Islam secara efektif dan efisien.

Setiap lembaga pendidikan pesantren idealnya memiliki sistem yang berbeda. Pada sistem yang diterapkan di Pondok Pesantren Daar el-Qolam, Gintung, Jayanti, Tangerang-Banten, yang didirikan oleh KH. Ahmad Rifa’i Arief pada 1968, mengundang reaksi negatif dari masyarakat di kampungnya.

Foto udara: Nampak kurang lebih 5 ribu santriwan dan santriwati Ponpes Daar El-Qolam melakukan Sholat Idul Adha di Lapangan Gedung Monas (Muhammad Natsir). (Instagram @daarelqolam)


KH. Rifa'i yang kala itu masih berusia sangat muda, memberanikan diri membuka lembaga pendidikan dengan skema pesantren modern, yang diilhaminya dari Pesantren Modern Darussalam Gontor, Ponorogo. Pesantren itu merupakan pesantren pertama di Indonesia yang menerapkan skema sistem pendidikan modern.

Saat mendirikan Daar El-Qolam dengan sistem pendidikan Islam berbasis pesantren modern di kampungnya, masyarakat Gintung menentang sistem yang dibuat Rifa'i muda. 

Bahkan menganggapnya hal tersebut sebagai mimpi belaka. Mewajibkan santri-santrinya berbahasa Indonesia dan meninggalkan Bahasa Sunda. Hal ini dipandang sebagai mimpi memindahkan Jakarta ke kampung Gintung.

Baca Juga: Mengenal La Tansa, Pondok Pesantren Paling Indah di Banten: Dikunjungi Jokowi Gegara Diterjang Banjir!

Adapun saat mewajibkan santrinya berbahasa Arab, menurut masyarakat Gintung hal itupun hanya mimpi yang tidak akan terwujud. Karena dinilainya hendak memindahkan Makkah ke Gintung.

Puncaknya, saat pengajaran bahasa Inggris dilakukan di pesantren, maka cercaan yang datang lebih keras lagi. Yaitu Rifa'i muda dicap mengikuti bahasa orang kafir, dan dengan sendirinya Rifa'i juga termasuk kafir.

Mereka yang menuduh Rifa'i, dengan cara memahami dalil hadits Nabi Muhammad 'Sholallahu 'alaihi wa salam' secara keliru, yaitu: "Barang siapa yang mengikuti sesuatu kaum maka ia termasuk ke dalamnya".

Penulis Nasional, Hafis Aszhari mengabadikan ajaran dan sejarah dakwah K.H. Ahmad Rifa'i Arief dalam sebuah buku. (Instagram @jaya_buku)

Dengan kesungguhan dan kesabaran beliau, tantangan yang datang bertubi-tubi itu berlalu begitu saja. Kesungguhan dan kesabaran Rifa'i dalam mendidik mulai menampakkan hasilnya.

Pada akhir Tahun 1970, semakin ramai santri yang datang dari berbagai tempat, tidak hanya masyarakat Gintung dan sekitarnya tetapi juga dari Jakarta, Bandung, Karawang, dan Bekasi meski memang kebanyakan berasal dari daerah Banten seperti Pandeglang, Serang, Rangkasbitung dan Cilegon.

KH. Ahmad Rifa'i Arief juga rajin menjalin komunikasi dan membuka jaringan kepada tokoh-tokoh masyarakat serta meminta nasihat dari guru-gurunya. Terutama berkunjung ke Gontor menemui gurunya, Kiyai Imam Zarkasyi, atau pergi ke Serang untuk sekedar bertemu dan meminta pandangan kepada ulama di sana, seperti Kiyai Haji Abdul Wahab Afif.

Baca Juga: 3 Pondok Pesantren Modern Terbesar di Banten: Nomor 1 Dijuluki Kota di Tengah Desa!

Ketokohannya sebagai pemimpin pondok pesantren mulai tampak ketika itu, ditambah kemampuannya dalam bahasa Arab yang fasih baik lisan ataupun tulisan.

Hal inilah yang memudahkan beliau diterima di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Serang, Banten padahal secara formal Gontor tidak mengeluarkan ijazah yang dapat memungkinkan santri-santrinya melanjutkan pelajaran pada peringkat yang lebih tinggi seperti di IAIN.

Masalah ini juga dialami oleh adik-adiknya yaitu Enah Huwaenah dan Ahmad Syahiduddin, yang merupakan adalah alumni pertama pondok pesantren Daar el-Qolam pada tahun 1975. Setelah itu, mereka melanjutkan pengajiannya di IAIN Jakarta hanya dengan ijazah yang ditulis oleh Rifa'i sendiri.

Kedua adiknya itu diterima karena mereka mempunyai kemampuan berbahasa Arab, dan sudah mempelajari berbagai ilmu dasar ke-Islaman seperti yang tertulis di balik ijazah mereka.

Rifa’i juga disibukkan dengan undangan acara atau pertemuan tertentu. Namun, ia tidak berkenan memenuhi undangan ceramah di luar pondoknya sendiri, kecuali yang menjemputnya adalah santri-santrinya.

Pemandangan langit yang indah menyelimuti Masjid As-Syifa, masjid utama Ponpes Daar El-Qolam saat waktu maghrib. (Haris pandeglangnews)


Pernah seorang wartawan televisi swasta memintanya untuk berceramah di layar Televisi, tetapi ia menolak. Alasannya ia tidak mau terkenal dan pondoknya tidak boleh terkenal karena dirinya.

Dalam sebuah acara kunjungan Ra’is bi’thah al-Azhar al-Syarîf (ketua utusan Universitas al-Azhar Cairo Mesir) ke pondoknya pada tahun 1996. KH. Ahmad Rifa'i Arief menegaskan dalam ucapan sambutannya yang disampaikan dalam bahasa Arab yang maksudnya sebagai berikut.

"Walaupun Rifa'i mati pondok ini (Daar El-Qolam tidak boleh mati, ia mesti tetap hidup dengan sistemnya bukan dengan kiyainya" ujar KH. Ahmad Rifa'i Arief.

Dalam dunia pendidikan, adakalanya seorang bapak memaksakan anaknya untuk minum obat yang dapat menyembuhkan penyakitnya, biarpun pada mulanya obat itu terasa pahit.

Begitupun dalam prinsip kepemimpinan, adakalanya suatu kebaikan itu dipaksakan kepada anak didiknya, biarpun dilakukan secara terpaksa. Namun lama-lama keterpaksaan itu bisa menjadi kebiasaan, hingga akhirnya menjadi suatu yang luar biasa.

Begitulah pula Kiyai Rifa’i menyiapkan bekal kepemimpinan dengan baik kepada penerusnya, yang tak lain adalah adik laki-lakinya yang paling tua, yakni K.H. Ahmad Syahiduddin sebelum ia meninggalkan kapal bernama Daar El-Qolam.

Baca Juga: Inikah Pondok Pesantren Terindah di Indonesia? Berada di Lembah, Dikelilingi Sungai, Diapit Dua Gunung!

Halaman:

Editor: Ahmad Haris

Tags

Terkini

X